Bagaimana Cacingan Bisa Menular

Satu ekor cacing dapat mengisap darah, karbohidrat dan protein setiap sehari.

Sebanyak 60-90 persen penduduk Indonesia menderita cacingan. Meski tidak menyebabkan kematian, gangguan pencernaan ini tetap perlu diwaspadai. Cacingan bisa memicu gizi buruk, menurunkan kecerdasan, dan produktivitas penderitanya.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan, Prof dr Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), menjelaskan, ada tiga jenis cacing yang menjadi pemicunya yaitu cacing gelang (Ascaris Lumbricoides), cacing tambang (Ankylostoma duodenale dan Necator americanus), dan cacing cambuk (Trichuris trichuria).

“Satu ekor cacing dapat mengisap darah, karbohidrat dan protein setiap sehari,” kata Tjandra saat ditemui di acara Combantrin Media Event ‘Aku Bebas Cacing Bebas Berkreasi’, di FX Lifestyle Mall, Senayan, Jakarta, Kamis, 8 Juli 2010.

Ia menjelaskan bahwa cacing gelang yang bersarang di dalam tubuh manusia bisa menyerap 0,14 karbohidrat dan 0,035 protein per hari. Cacing cambuk bisa mengisap darah sebanyak 0,005 ml per hari, sedangkan cacing tambang mampu mengisap darah sebanyak 0,2 ml per hari.

Banyak cara yang dilakukan cacing-cacing tersebut untuk memasuki tubuh manusia, di antaranya:

1. Menembus telapak tangan atau kaki
Saking kecilnya larva cacing tambang dapat masuk menembus telapak tangan dan kaki.

2. Menular melalui sentuhan
Larva cacing bisa berpindah dari anak yang terinfeksi cacingan ke anak lainnya yang sehat.

3. Jajanan
Larva cacing dapat terbawa angin dan hinggap ke jajanan yang tidak bersih yang dimakan oleh anak-anak. Jadi usahakan jangan jajan sembarangan.

4. Tangan dan kuku yang kotor
Tangan yang kotor dan bahan makanan yang tidak dicuci dengan sempurna jika masuk ke dalam mulut bisa mengantarkan cacing bersarang dalam tubuh.

“Untuk itu gerakan cuci tangan pakai sabun akan digalakkan, karena salah satu cara efektif mencegah cacingan adalah dengan mencuci tangan. Kami berharap prevalensi cacingan menurun hingga 20 persen pada 2015,” kata Tjandra.

Jumlah penderita terbanyak adalah anak usia sekolah dasar. Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan jumlah penderita usia SD yakni 80 persen anak di Jakarta Utara, 74,70 persen anak di Jakarta Barat, dan 68,42 anak di Jakarta Selatan. “Prevalensi anak usia SD masih tinggi, 60-80 persen. Untuk itu, perlu sosialisasi seputar masalah penyakit ini kepada masyarakat,” katanya. (pet) •

VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: