Jangan Biarkan Anak Suka Jajan!

jajan

KOMPAS.com – Jajanan dengan berbagai jenis bentuk dan warna dikemas secara menarik, lantas disajikan para pedagang kepada anak-anak di lingkungan sekolah maupun perkampungan setiap hari. Tetapi, masyarakat tidak tahu kandungan gizi atau bahkan jajanan itu berbahaya bagi kesehatan anak.

Di sisi lain, orangtua selalu memberi uang jajan kepada putra putrinya ketika mau berangkat sekolah dan merasa kasihan jika anak balitanya merengek minta jajan tetapi tidak dipenuhi.

Orangtua merasa bersalah apabila tidak menuruti kemauan anak, karena orangtua bekerja mencari uang juga untuk keperluan anak.

Apalagi bagi keluarga mampu, jika orangtua tidak memberikan uang jajan atau menuruti kemauan anak maka akan dicap tetangga kanan kiri sebagai orangtua yang pelit.

Sebenarnya, boleh saja anak jajan tetapi pada saat tertentu atau kadang-kadang saja, jangan biarkan jajan menjadi kebiasaan rutin anak.

Namun, sebagian masyarakat modern sekarang ini justru bangga dengan kebiasaan buruk anak tersebut, karena merasa bisa menuruti kemauan anak. Jika orangtua membiarkan kebiasaan anak jajan di sekolah sebenarnya merugikan bagi anak dan orangtua, karena makanan yang dibeli anak belum tentu bergizi dan sehat.

Dari pada memberikan uang jajan kepada anak, orangtua dapat memberikan penggantinya dalam bentuk bekal makanan sebab jajanan belum tentu terjamin nutrisi dan kebersihannya, khususnya jajanan di luar sekolah.

Berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2007, dari 4.500 sekolah di Indonesia ada 45 persen jajanan yang dijual di sekitar sekolah tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia.

Bahaya utama berasal dari cemaran fisik mikrobiologi dan kimia seperti pewarna tekstil. Jenis jajanan berbahaya ini meliputi makanan utama, makanan ringan, dan minuman.

Psikolog Universitas Indonesia, Mayke S. Tedjasaputra mengatakan, untuk mencegah kebiasaan jajan anak harus dimulai dari pola makan keluarga. Salah satu cara adalah membuat “kudapan tandingan” yang tidak kalah enak dari jajanan yang dapat dibeli di luar rumah.

Sebagai upaya preventif, katanya, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat dan orangtua harus dapat dijadikan contoh atau panutan.

“Tidak ada gunanya melarang anak jajan kalau orangtuanya juga sering jajan dengan alasan tidak sempat memasak karena kesibukannya,” katanya.

Selain itu, sebagai upaya kuratif, orangtua harus dapat menata kegiatan makan, membuat penganan bersama dengan anak, dan memperkenalkan anak pada berbagai jenis makanan.

Menurut dia, orangtua harus berani bertindak tegas untuk melarang anak yang suka jajan, karena kebiasaan ini bisa berpengaruh pada pola makan anak.

“Orangtua harus bertindak tegas terhadap kebiasaan kurang baik itu. Bertindak tegas bukan berarti harus dengan cara kekerasan membentak atau lainnya, tetapi anak dibatasi untuk jajan,” katanya.

Ia mengatakan, kebiasaan jajan dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah, apalagi makanan yang ia beli belum tentu bergizi dan sehat.

Untuk mencegah kebiasaan tersebut, bagi balita biarkan anak menangis kalau mau minta jajan. “Sampai menangis berguling-guling pun biarkan dia. Ini sebagai pembelajaran,” katanya.

Namun, orangtua harus memberi pengertian pada si kecil bahwa kebiasaan jajan tidak baik dan ia diberi kesempatan untuk jajan pada hari tertentu saja, jangan setiap hari.

Ia mengatakan, kebiasaan jajan bagi anak merupakan pengalaman yang menyenangkan. Kadangkala kebiasaan ini untuk melawan orangtua, agar sama dengan teman lainnya, dan untuk “membeli” atau disukai teman.

Menurut dia, untuk mengurangi kebiasaan anak jajan di sekolah bisa dimulai dengan membatasi pemberian uang jajan. Boleh jajan pada waktu atau hari tertentu saja.

Spesialis gizi klinik Departeman Radioterapi Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK mengatakan, untuk mencegah anak suka jajan makanan kurang sehat (kurang higienis, mengandung pengawet dan pewarna) di sekolah, orangtua harus membiasakan anak untuk sarapan pagi.

Ia mengatakan, sarapan pagi sangat penting karena merupakan persiapan asupan energi untuk beraktivitas dan untuk menyerap pelajaran di sekolah.

Bagi anak yang susah makan di rumah, orangtua harus bisa memberikan pengertian bahwa makanan untuk kebutuhan tubuh anak bukan untuk kepentingan orangtua.

2 Tanggapan

  1. setuju, betul sekali, lanjutkan : D

  2. mantap gan infonya,…
    thx ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: